Menjaga Pancasila di Era Scroll dan Swipe

Oleh: Wina Salsa Nabila (Guru dan Mahasiswa S2 PPKn UNS)

Pancasila adalah warisan jenius bangsa Indonesia yang telah terbukti mampu menjadi dasar pemersatu bangsa di tengah keberagaman etnis, budaya, agama, dan bahasa. Sejak pertama kali dirumuskan oleh para pendiri bangsa, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara secara formal, tetapi juga sebagai pandangan hidup (weltanschauung) yang menuntun kehidupan sosial-politik Indonesia. Namun, dinamika zaman membawa tantangan baru yang tidak bisa diabaikan: kita hidup di era digital, era di mana perhatian manusia berpindah secepat gerakan jari di layar scroll dan swipe. Di sinilah letak persoalan penting: bagaimana menjaga agar Pancasila tetap hidup, bermakna, dan relevan di tengah gaya hidup digital yang instan dan serba cepat ini?

Generasi digital, terutama generasi Z dan generasi Alpha, tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak tumbuh bersama teks-teks panjang, pidato Bung Karno, atau diskusi politik di radio. Mereka tumbuh bersama TikTok, Instagram, dan YouTube. Akses informasi tak lagi menjadi persoalan, tetapi selektivitas dan kedalaman pemahaman yang menjadi tantangan. Di tengah banjir informasi ini, nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, dan keadilan sosial perlahan tersisih oleh konten-konten viral yang cenderung individualistik, konsumtif, dan bahkan destruktif. Maka, pendidikan Pancasila hari ini tak cukup hanya menyampaikan isi lima sila, tetapi harus menjawab kebutuhan zaman: mengakar di hati sekaligus hadir di ruang digital.

Pendidikan Pancasila di masa lalu pernah mengalami fase dogmatisasi, terutama di era Orde Baru. Saat itu, Pancasila dijadikan doktrin yang wajib diterima tanpa kritik melalui Penataran P4. Meskipun tujuannya mulia, pendekatan yang terlalu top-down membuat Pancasila kehilangan daya hidupnya sebagai nilai yang tumbuh dari kesadaran. Akibatnya, ketika era Reformasi membuka kran demokrasi dan kebebasan berpikir, Pancasila justru dianggap sebagai warisan otoriter dan mulai ditinggalkan. Hal ini diperparah dengan dihapusnya mata kuliah dan pelajaran Pendidikan Pancasila dari sejumlah jenjang pendidikan. Baru beberapa tahun terakhir, upaya menghidupkan kembali Pendidikan Pancasila mulai dilakukan secara sistematis, termasuk melalui pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Namun, tantangan tidak berhenti sampai di situ. Meski Pancasila telah kembali masuk ke dalam kurikulum pendidikan, pertanyaannya adalah: apakah pendekatannya sudah berubah? Apakah Pancasila sudah diajarkan dengan metode yang relevan bagi generasi digital? Tantangan utama pendidikan saat ini bukan hanya menyampaikan isi kurikulum, tetapi bagaimana membangun keterlibatan (engagement) dan ketertarikan siswa untuk menghayati apa yang mereka pelajari. Pendidikan Pancasila tak bisa lagi mengandalkan ceramah satu arah, hafalan, dan ujian pilihan ganda. Ia harus menjadi pengalaman yang hidup, kontekstual, dan reflektif. Misalnya, melalui proyek berbasis nilai, diskusi isu aktual yang dikaitkan dengan Pancasila, atau bahkan produksi konten digital yang menunjukkan penerapan nilai Pancasila di dunia nyata.

Generasi muda saat ini tidak anti-Pancasila, mereka hanya belum menemukan bentuk komunikasi yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Oleh karena itu, penting bagi para pendidik, pemerintah, dan masyarakat untuk menjembatani nilai-nilai luhur bangsa ini ke dalam dunia yang dipahami oleh generasi digital. Kita harus menanamkan bahwa Pancasila bukanlah masa lalu, tetapi masa depan. Pancasila bukan sekadar simbol di dinding kelas, tetapi prinsip hidup dalam mengambil keputusan sehari-hari dari memilih konten yang bermutu, bersikap toleran terhadap perbedaan, hingga bersuara kritis terhadap ketidakadilan sosial.

Untuk itu, strategi penguatan Pendidikan Pancasila harus dilakukan secara menyeluruh. Pertama, kurikulum perlu didesain ulang agar lebih fleksibel dan kontekstual. Kedua, pelatihan guru dan dosen Pendidikan Pancasila harus lebih difokuskan pada pedagogi berbasis refleksi kritis, bukan indoktrinasi. Ketiga, negara perlu mendukung lahirnya komunitas atau ekosistem kreatif yang mengangkat nilai-nilai Pancasila dalam bentuk yang menarik film, musik, podcast, meme edukatif, bahkan e-sport yang mengangkat tema persatuan. Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang publik digital.

Lebih jauh lagi, menjaga Pancasila di era digital juga berarti menjaga narasi kebangsaan dari perpecahan akibat disinformasi dan ujaran kebencian. Banyak kasus perpecahan sosial yang terjadi bukan karena perbedaan nilai, tetapi karena polarisasi opini yang dipicu oleh informasi palsu di media sosial. Dalam konteks ini, literasi digital dan literasi ideologi harus berjalan beriringan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran ideologis yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing oleh provokasi digital.

Pendidikan Pancasila juga harus memberi ruang untuk dialog lintas identitas. Generasi muda kita harus belajar bahwa berbeda itu bukan ancaman, tetapi kekayaan. Bahwa menjadi Indonesia berarti menghargai keberagaman dan menjadikannya kekuatan. Pendidikan Pancasila yang berhasil adalah yang bisa membuat siswa menyadari bahwa mereka adalah bagian dari solusi bangsa, bukan sekadar objek pendidikan. Ketika siswa merasa memiliki Pancasila, maka mereka akan menjaga dan mengamalkannya bukan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran.

Di akhir tulisan ini, perlu kita sadari bahwa menjaga Pancasila bukan tugas satu lembaga, satu kurikulum, atau satu generasi. Ia adalah tugas kolektif yang menuntut keseriusan, kreativitas, dan keberlanjutan. Di tengah era scroll dan swipe yang membuat perhatian mudah teralihkan, Pancasila harus hadir dengan wajah yang segar, dinamis, dan bermakna. Mari kita hidupkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dalam ruang digital, dan dalam hati nurani generasi masa depan. Karena ketika Pancasila hidup, maka Indonesia akan tetap utuh dan bermartabat di tengah arus perubahan dunia yang tak pernah berhenti.

Tulisan ini telah dimuat dan diambil dari
https://www.kompasiana.com/winasalsanabila1224/685d1e6c34777c59285823b2/menjaga-pancasila-di-era-scroll-dan-swipe

About The Author

Comments

More Posts You May Find Interesting