PENGUATAN NILAI-NILAI PANCASILA DI MASYARAKAT UNTUK MENANGKAL RADIKALISME (PERSPEKTIF MANTAN NAPITER PELAKU BOM BALI)

Isu radikalisme dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini menjadi isu penting di Indonesia. Berbagai pembahasan tentang fenomena berkembangnya paham radikalisme, fundalisme, ekstremisme dan terorisme semakin meningkat. Isu dan fokus perhatiannya yang menajdi pendekatan dan sudut pandang adalah konflik atas nama agama dan agama menjadi alat konflik, serta konflik perbedaan pemahaman tentang menata kehidupan keluarga, Masyarakat dan negara (Ma’ruf & Hastangka, 2021)
Radikalisme merupakan sebuah sikap atau pandangan yang mengadvokasi perubahan ekstrem dalam tatanan sosial, politik, agama, atau ideologi yang ada. Orang yang memiliki pandangan radikal cenderung menolak atau menentang status quo dan berusaha untuk menggantinya dengan cara yang tidak konvensional atau bahkan ekstrem. Radikalisme dapat muncul dalam berbagai konteks, termasuk politik, agama, ekonomi, atau isu-isu sosial.
Terorisme sebagai penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan oleh individu atau kelompok dengan tujuan politik, ideologi atau agama yang bertujuan untuk menciptakan ketakutan ditengah masyarakat. Sasaran serangan terorisme dapat mencakup Gedung-gedung pemerintah, fasilitas publik, lembaga keamanan, tempat ibadah, transportasi umum, atau Masyarakat sipil secara umum. Teroris seringkali berusaha menciptakan efek dramatis dan memusatkan perhatian media untuk memperoleh publisitas dan mempengaruhi opini publik.
Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai dasar bangsa Indonesia. Pancasila terdiri dari lima sila atau prinsip utama yang merupakan fondasi moral dan ideologi negara Indonesia. Konsep ini memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme dan ekstremisme di Indonesia dan dapat dianggap sebagai penangkal radikalisme dengan beberapa cara:
- Ketuhanan Yang Maha Esa
- Pendidikan agama yang toleran
- Mengadakan dialog antar agama
- Sosialisasi nilai agama yang moderat
- Membentuk Lembaga kerukunab beragama
- Kemanusiaan yang adil dan beradap
- Melatih rasa empati
- Pelatihan dalam menyelesaikan konflik
- Pendidikan tentang hak asasi manusia
- Perlibatan Masyarakat dalam pembangun
- Pemberdayaan perempuan dan anak
- Persatuan Indonesia
- Interaksi antar budaya/pertukaran pemuda/pertukaran budaya
- Meningkatkan peran organisasi kepembudaan sebagai duta damai
- Melestarikan budaya dan bahasa daerah
- Melestarikan budaya dan bahasa daerah
- Menjaga kebersamaan dalam Masyarakat/gotong royong
- Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
- Sosialisasi sistem perwakilan dalam proses demokrasi
- Aktif dalam organisasi kemasyarakatan
- Membentuk forum diksusi
- Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
- Aktif dalam Pembangunan
- Pembangunan ekonomi kerakyatan
- Relawan sosial
- Kerja sama dan gotong royong
- Pengadaan Lembaga pelatihan dan pendidikan
Pancasila dalam menangkal radikalisme juga dilihat pada konsep berikut ini.
Kebhinekaan: Salah satu sila Pancasila adalah “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” yang mengandung nilai-nilai keadilan, persamaan, dan kebersamaan. Pancasila mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan agama, budaya, dan suku, serta menggalang persatuan dalam keberagaman. Ini membantu mengurangi potensi konflik antaragama dan etnis yang dapat memicu radikalisme.
Ketahanan terhadap Pengaruh Asing: Pancasila juga mendorong kelangsungan dan ketahanan nasional. Dengan mengutamakan kedaulatan, negara dapat lebih berhati-hati dalam mencegah pengaruh asing yang dapat mendorong ideologi radikal. Pancasila memberikan tekanan pada kemandirian kebijakan luar negeri yang berlandaskan pada prinsip non-blok.
Demokrasi: Pancasila mengakui pentingnya demokrasi dalam mengambil keputusan politik. Demokrasi memberikan wadah untuk berdiskusi, berpendapat, dan mengekspresikan pendapat tanpa kekerasan. Hal ini dapat mengalihkan individu yang frustrasi atau tidak puas dengan sistem politik ke arah yang lebih konstruktif daripada radikalisme.
Ketertiban dan Keadilan: Pancasila menegakkan dan keadilan sosial sebagai salah satu prinsip utama. Ini menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan adil, mengurangi ketidakpuasan yang dapat mendorong seseorang menuju ekstremisme sebagai jalan keluar.
Pendidikan dan Kesadaran: Pancasila juga mengandung prinsip “Ketuhanan yang Maha Esa,” yang mencerminkan toleransi beragama. Pendidikan yang mempromosikan pemahaman dan penghargaan terhadap agama dan budaya lain dapat membantu menghindari stereotip budaya
Opini di atas merupakan hasil rangkuman kegiatan sosialisasi oleh Joko Triharmanto , mantan Napiter Pelaku Bom Bali yang juga merupakan mahasiswa Prodi Magister PPKN UNS. Rangkaian sosialisasi tersebut antara lain termuat di
- https://solotrend.net/index.php/2023/06/24/badan-kesbangpol-diy-kembali-menggelar-acara-diskusi-upaya-pencegahan-bahaya-ekstrimisme/
- https://solotrend.net/index.php/2023/06/13/peran-masyarakat-diperlukan-dalam-membentengi-dari-paham-radikal/
- https://solotrend.net/index.php/2023/06/11/gelar-kuliah-umum-ukdw-hadirkan-mantan-napiter-pelaku-bom-bali/
Mengenai materi sosialisasi dari Joko Triharmanto dapat diunduh di link berikut
Penulis
Joko Triharmanto
Mahasiswa Pascasarjana S2 PPKn Universitas Sebelas Maret Surakarta



Comments
More Posts You May Find Interesting




