
UNS— Prof. Dr. Winarno, S.Pd., M.Si. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Penilaian Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Beliau lahir di Wonogiri, 13 Agustus 1971. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan juga sebagai Dosen Program Studi PPKn FKIP UNS. Dalam pengukuhan guru besar, Prof. Winarno membawakan pidato inaugurasi dengan judul “Integrasi Pancasila pada pendidikan kewarganegaraan sebagai upaya mewujudkan warga Indonesia yang berkarakter”. Dalam pidatonya tersebut menyajikan 5 bahasan, yaitu hakekat dan pentingnya Pancasila; kompetensi, isi dan area pendidikan kewarganegaraan; integrasi Pancasila melalui pendidikan kewarganegaraan; indeks karakter warga negara; dan simpulan.
Menurut Prof. Winarno, Pancasila mungkin sudah biasa dan sesungguhnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun dengan semakin banyaknya warga Indonesia mau berbicara Pancasila akan semakin kokohlah Pancasila di Indonesia ini. Tiga rezim kepemimpinan yang kita lalui sekarang juga membicarakan Pancasila khususnya dikaitkan dengan karakter. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memprogamkan Pembangunan Karakter Bangsa (2010), Jokowi menggerakan perlunya Penguatan Pendidikan Karakter (2016) dan Prabowo mengajak marilah kita Memperkokoh Ideologi Pancasila (2024).
“Namun demikian, tetap menarik untuk dipertanyakan terus perihal Pancasila ini, yakni Apakah sesungguhnya Pancasila itu dan mengapa ia penting bagi bangsa ini?; Apa kaitan Pancasila dengan pendidikan kewarganegaraan?; Bagaimana integrasi Pancasila pada pendidikan kewarganegaraan?; dan bagaimana menilai karakter warga berdasarkan Pancasila?,” ujar Prof. Winarno.
Pengertian Pancasila mencakup persoalan tentang rumus dan isi Pancasila. Rumus Pancasila adalah status, kedudukan, posisi, eksistensi, fungsi atau makna penting dari Pancasila pada bangunan negara bangsa Indonesia. Sedang isi Pancasila dimaksudkan muatan, kandungan atau substansi dari setiap isi dari 5 sila Pancasila. “Pancasila penting dan diperlukan karena Indonesia baru membutuhkan ideologi dan identitas baru yang mampu mempersatukan masyarakat. Baik rumus dan isi Pancasila ditafsirkan dengan keragaman pendapat dan interpretasi. Satu Pancasila beragam tafsir. Dengan demikian, rumus dan isi Pancasila manakah yang seharusnya disosialisasikan kepada warga muda,” terang Prof. Dr. Winarno, S.Pd., M.Si.
Pancasila berkaitan dengan pendidikan kewarganegaraan, sebab sosialisasi Pancasila dilakukan melalui pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila menjadi isi utama pendidikan kewarganegaraan Indonesia baik pada area sekolah, masyarakat maupun praksis di jalur akademik. Integrasi Pancasila pada pendidikan kewarganegaraan dilakukan dengan menata materi atau rumus Pancasila sesuai dengan jenjangnya. Di SD, materi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, di SMP materi Pancasila sebagai ideologi kebangsaan dan di SMA materi Pancasila sebagai dasar (filsafat) negara. Dengan penataan demikian, menjadikan PKn berfungsi sebagai pendidikan nilai moral (SD), sebagai pendidikan kebangsaan (SMP), dan sebagai pendidikan politik (SMA)). Secara berturut turut, uraian atau isi Pancasila dijelaskan melalui pendekatan sosiologis, historis dan yuridis.
“Karakter warga negara berdasar Pancasila yang mencakup atas 2 karakter kewarganegaraan atau civic virtue yakni civic comitmen dan civic disposition. Civic commitment-nya adalah menerima, loyal, menghargai, mempertahankan dan melestarikan Pancasila. Civic disposition-nya adalah dimilikinya nilai-nilai dasar Pancasila itu dalam diri warga negara yakni karakter yang religius, manusiawi, nasionalis, demokratis dan adil,” terang Prof. Dr. Winarno, S.Pd., M.Si.
Pada ranah pendidikan, karakter warga negara diukur melalui bentuk penilaian sikap atau afektif. Penilaian ini bisa dilakukan dengan teknik seperti angket, inventori, observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Karakter bersatu misalnya, dijabarkan terlebih dulu ke dalam beberapa indikator selanjutnya dibuat butir-butir pernyataan. Butir-butir pertanyaan disusun sesuai dengan teknik yang digunakan. “Selanjutnya butir-butir pernyataan karakter dalam bentuk intrumen ini diberikan kepada warga misalnya peserta didik sekolah agar diisi. Butir-butir pernyataan karakter dapat dikategorikan sebagai indeks karakter warga negara, sedang hasil pengisiannya menunjukkan bagaimana kondisi karakter warga negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila,” pungkasnya.
Prof. Winarno dikukuhkan sebagai Guru Besar oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. pada Jumat (20/12/2024) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Di hari tersebut, Prof. Winarno dikukuhkan bersamaan dengan Prof. Ir. Ary Setyawan, M.Sc., Ph.D (Fakultas Teknik), Prof. Dr. Ir. Dwi Ardiana Setyawardhani, S.T., M.T (Fakultas Teknik), Prof. Dr. Wiharto, S.T., M.Kom (Fakultas Teknologi Informasi Sains dan Data), dan Prof. Dr. Suharno, S.T., M.T (FKIP).



Comments
More Posts You May Find Interesting




