Membuka Komunikasi dengan Napiter: Hubungan yang Panas Menjadi Sejuk
Ringking M Korah
Benny J Mamoto
PRIK-KT Universitas Indonesia
Email : ringking.korah@gmail.com
Artikel di Kompas (14 Oktober 2021) mengenai para para napiter cukup menarik. Secara garis besar, para napiter tidak menyangka bagaimana para penangkapnya akan memperlakukannya. Salah satu bagiannya menuliskan bahwa napiter JAD yang mengira akan diperlakukan kasar karena tingkah lakunya, malah berhadapan dengan petugas yang ramah. Pemeriksaan yang tiap hari dilakukan tidak berupa interogasi, tapi malah menjadi kunjungan seorang teman. Bentuk pertanyaan layaknya pertanyaan seorang teman menyapa keseharian. Proses ini dilakukan di aula Rutan. Polisi membawakan bacaan yang beragam. Polisi menjadi perantara hubungan napiter dan keluarganya. Program lain yang diberikan oleh polisi adalah berbagi pengalaman hidup dengan individu yang keluar dari jaringan terorisme.
Tentu pola ini tidak dapat terbayangkan oleh masyarakat awam (bahkan napiternya pun demikian). Hal yang dibangun oleh polisi ini tidak biasa. Masyarakat awam umumnya lebih akrab dengan cara interogasi gaya pasukan Amerika Serikat yang sering dimuat di media, yaitu melalui cara-cara yang terkadang melampaui batas kemanusiaan. Uniknya, para prajurit itu justru sedang menegakkan kemanusiaan yang direnggut oleh para teroris.
Apa yang dipaparkan dalam artikel tulisan Rahayu tampaknya sudah dikaji oleh Mamoto (2008). Riset yang dilakukan Mamoto, khususnya pada napiter Jamaah Islamiah, mungkin satu di antara sekian banyak kisah sukses dari Kepolisian Republik Indonesia dalam menangani napiter. Ia mengetengahkan ide kunci yakni kebudayaan sebagai pintu masuk untuk mendekati para napiter.
Manusia dan Kebudayaan
Kebudayaan secara garis besar adalah hal-hal yang dilakukan kelompok dalam upaya beradaptasi dengan lingkungannya dan dijalankan dari generasi ke generasi. Sebagaimana semua kelompok, secara alami polisi dan teroris keduanya mempunyai kebudayaan khas. Kedua kelompok berhadapan satu sama lain, dan dalam hal ini kelompok teroris lebih dulu memosisikan polisi sebagai musuh. Dalam pemikirannya, apa yang dilakukan polisi adalah hal yang berlawanan dengan kelompok teroris.
Paparan Rahayu (2021) justru memperlihatkan hal yang berbeda dari apa yang dibayangkan oleh para napiter. Dan yang menarik adalah tingkah laku itu adalah apa yang dilakukan di internal kelompok napiter. Mamoto menyebutkan sebuah tingkah laku khas yang menunjukkan kehangatan dan kekeluargaan, yakni cium pipi. Selain menimbulkan suasana kehangatan, cium pipi juga pinjaman dari kebudayaan Arab sebagai wujud dari pertemanan yang akrab. Kebudayaan Arab adalah kebudayaan rujukan nyaris semua golongan Islam garis keras di dunia.
Tingkah laku lain adalah penyebutan panggilan dengan meminjam istilah Arab “anthum” (yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah baku “Anda”). Penggunaan istilah ini mempererat hubungan antara anggota satuan polisi dengan para napiter, khususunya dari Jamaah Islamiah. Panggilan ini lagi-lagi merujuk pada cara berbahasa dan relasi sosial di kehidupan masyarakat Arab.
Penutup
Kekagetan para napiter menjadi penanda bahwa apa yang disangkakan kepada polisi tidaklah benar. Hal ini konsisten antara temuan Mamoto (2008) dan Rahayu (2021). Kekagetan ini menjadi indikator bahwa pameo tak kenal maka tak sayang adalah benar. Para napiter perlu melihat secara utuh kehidupan yang nyata, bukan sekedar wacana. Sebaliknya, polisi mengetengahkan kebudayaan sebagai jembatan hubungan itu dikarenakan yang hendak ditegakkan adalah nilai kemanusiaan yang universal. Proses hukum tetap berjalan, tapi mengingatkan kembali para napiter bahwa kemanusiaan tetaplah menjadi hal yang utama.
Daftar Pustaka
Mamoto, BJ. (2008). Penanganan Polri Terhadap Organ Teror dalam Al- Jamaah Al-Islamiyah. Disertasi Program Doktoral Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Rahayu, KY. Pandangan ekstrem pun luruh berkat pertemanan. Kompas, 14 Oktober 2021.
Penulis

DISCLAIMER : Opini tidak mencerminkan pandangan Program Studi Magister PPKn FKIP UNS. Isi opini menjadi tanggung jawab penulis.



Comments
More Posts You May Find Interesting




